Pemilu 2009 yang tinggal hitungan bulan lagi membuat para Pelaksana, pengawas dan kontestan pemilu bekerja lebih keras, demi melaksanakan tugas masing-masing. Dan untuk parpol bukan sekedar untuk melaksanakan tugas, tapi lebih dari itu berusaha untuk menjadi kontestan yang memenangkan simpati rakyat. Singkat kata KPU sibuk dengan sosialisasinya, Panwas sibuk dengan pengawasannya dan parpol sibuk dengan kampanyenya.
Jauh dari hiruk pikuk kerja keras itu, ternyata di luar sana ada sekelompok warga yang tidak mau peduli dengan apa yang dikerjakan oleh pelaksana dan parpol peserta pemilu. Mungkin tidak bayak yang tahu, sebuah dusun yang bernama Dusun Batu Tanre yang meliputi Kampung Batu Tanre dan Kampung Daeng. Dusun ini berada di Wilayah Desa Cakkeware, kecamatan cenrana, Kab. Bone, Prov. Sulawesi Selatan. Letaknya berada disbelah utara kota Watampone dan jaraknya kurang lebih 35 Km.
Sebagian besar warga di dusun ini menyatakan tidak mau peduli dengan pemilu mendatang dan mereka ingin golput saja. Pernyataan ini bukan muncul akibata adanya provokasi dari pihak-pihak tertentu, melainkan ini adalah sebuah inisiatif yang muncul dari mereka sendiri sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah yang tidak mau peduli dengan nasib mereka.
“kalau begini terus jalananta, lebih baik tidak usah kita memilih di pemilu nanti, kuda sama sapi saja takut lewat, apalagi kita” Itu adalah salah satu petikan kalimat yang diucapkan oleh warga saat saya berada dikampung tersebut beberapa hari yang lalu. Seorang warga menambahkan pula bahwa jika kondisi jalan raya mereka tetap seperti ini hingga pemilu nanti, maka mereka akan mengacuhkan pesta demokrasi tersebut.
Apa yang mereka alami saat ini memang sangat memprihatinkan, kondisi jalanan dikampung itu lebih mirip kubangan kerbau, disepanjang badan jalan yang panjangnya kira-kira 1,5 km itu terdapat kubangan sehingga kendaraan apapun tidak bisa lewat. Bahkan beberapa warga merasa takut lewat dijalan itu dengan alasan bahwa kuda sama sapi saja takut melewatinya.
Keadaan di atas cukup berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Akses ke dusun tetangga terputus jika harus ditempuh dengan kendaraan, Mereka sulit ke pasar untuk berbelanja dan memasarkan barang dagangan, anak-nak sekolah pun sering terlambat karena kendaraan yang mereka tumpangi harus berhenti sebelum sampai di sekolah.
Saat saya menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan salah satu tokoh masyarakat di dusun tersebut, Dia mengatakan bahwa perbaikan jalanan ini sebenarnya adalah tanggung jawab Pemda, tetapi jika ada caleg yang terbuka hatinya untuk membantu kami memperbaiki jalanan ini maka insya Allah suara kami yang awalnya akan di Golputkan akan kami alihkan ke Dia (Baca: caleg) seratus persen. Tetapi jika kondisi jalanan kami masih seperti ini hingga pemilu maka warga disini akan bersatu untuk Golput.
kami sudah bosan dengan janji-janji para caleg, dulu waktu kampanye caleg 2004 kami dijanji dengan perbaikan jalan, tapi sekarang sudah menjelang pemilu lagi kondisi jalanan kami malah makin parah. Jadi kalau bisa perbaiki jalan dulu baru kami memilih.














Menanggapi permasalahan yang telah di paparkan di atas,saya ingin sedikit berkomentar.yah mungkin rakyat kecewa dengan janji-janji caleg yang tidak terealisasikan sehinggan mereka memilih untuk golput,namun apakah itu pilihan yang bijaksana?,,untuk itu dalam memilih,kita juga harus hati-hati,jangan sampai salah pilih,,kita harus selektif,pilihlah sesuai dengan hati nurani anda yang benar-bena mempunyai tujuan un tuk mensejahterakan umat,,bukan yang hanya mengobral janji-janji belaka..sedangkan bila masyarakat golput,,lantas siapa wakil mereka nantinya di legislatif.menurut saya golput bukanlah pilihan yang bijak,namun memilih dengan memperhatikan
siapa yang dipilih itu lebih baik,,selain itu apabila memang menurut anda tidan ada yang baik,,maka pilihlah yang paling sedikit buruknya.,,terimakasih……
golput yuk.. saya kan putih
koq golput sih……………?? jangan gitu dung… ingat 5 menit untuk 5 tahun koq jadi 0 menit untuk 5 tahun?????