Terimakasih Nurdin Halid!

Yusran Darmawan (http://timurangin.blogspot.com)

saat timnas berlaga
SEBUT saja namanya Iman. Ia berprofesi sebagai fotografer di salah satu media terkemuka di Makassar, Sulawesi Selatan. Iman hanya menyimpan satu foto di dompetnya. Bukan foto istrinya yang jelita. Bukan pula foto anak-anaknya yang catik-cantik. Bukan pula fotonya saat bertualang ke beberapa negara besar. Ia hanya menyimpan foto Nurdin Halid, sosok yang disebutnya sebagai pahlawan dalam kehidupannya. Sosok yang menjadi idola serta penyelamat dalam makna yang sebenarnya.
Ini bukanlah sekedar guyonan atau cerita pengantar tidur. Di tengah banjir hujatan dan makian masyarakat atas Nurdin, terdapat banyak sosok seperti Iman yang setia menjadikan Nurdin sebagai panutan. Saya sering tercengang melihat Nurdin. Terlepas apapun penilaian Anda, bagi saya sendiri, Nurdin adalah sosok hebat yang kokoh seperti karang di tengah hujatan dan gelombang makian yang dilontarkan media massa Indonesia serta masyarakat. Ia bisa membolak-balikkan semua teori komunikasi massa khususnya tentang keperkasaan media massa. Ia melabrak arus besar ketidaksukaan atas dirinya yang dihembuskan media. Bahkan di saat Presiden SBY memerintahkan agar digelar Kongres Sepakbola nasional, Nurdin tetap tak tergoyahkan.
Sosoknya seperti Al Capone dalam serial The Untouchable. Memang, banyak orang yang menghujatnya. Tapi ada begitu banyak orang yang setia dan rapat melindunginya. Di dalam tubuh PSSI, tak pernah terdengar ada kritikan deras atas dirinya. Mengapa di tengah hujatan seperti itu ia bisa bertahan? Karena semua pengurus PSSI melindungi dan menjaganya, serta tetap setia untuk menjalankan kemudi organisasi di bawah Nurdin. Inilah hal yang diabaikan media. Mengapa sedemikian setia? Jawabannya bisa bervariasi. Sebab di tengah gambaran tentang sosok Nurdin yang dicap media massa sebagai koruptor, terdapat satu sosok yang peduli dengan sesamanya dan membagikan semua yang dimilikinya untuk orang lain di sekitarnya. Tak percaya? Itu hak Anda sebagai pembaca.
Bagi saya, ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari sosok Nurdin yang selama ini luput dari pantauan media. Sejauh ini, media kita hanya focus pada ’sisi gelap’ Nurdin, tanpa melihat hal-hal yang bisa menjadi penjelas mengapa ia bisa kokoh bertahan di jagad piolitik kita.
nurdin halid
Pertama, kemampuannya membangun jaringan sosial yang kokoh di sekitarnya. Ia menciptakan barisan yang seperti tembok baja dan setia di bawah kepemimpinannya. Terdapat begitu banyak orang yang tersebar di pusat hingga daerah yang ikhlas dipimpin Nurdin. Barisan orang-orang ini adalah barisan yang tidak peduli dengan apa kata media massa. Mereka tidak peduli dengan hujatan dan makian yang dilancarkan bagai badai atas sosok Nurdin.
Kedua, Nurdin bisa menjadi contoh hidup atas dinamika politik tanah air yang pasang surut. Sosok Nurdin adalah sosok yang timbul tenggelam di sekitar kita. Pada hari ini ia dicaci dan dibui, namun pada saat lain, ia bisa bersanding bersama presiden untuk menyaksikan pertandingan sepakbola. Pada satu kesempatan ia disidang dan diadili serta divonis sebagai koruptor, namun pada kesempatan lain ia dipuja, tangannya dicium sebagai tanda cinta, hingga kehadirannya dirindukan semua pemain sepakbola. Politik kita seperti cuaca, kadang dilanda hujan badai namun sekian detik berikutnya bisa kembali indah dengan langit biru dan cahaya pelangi. Kelebihan Nurdin adalah kemampuan menghadapi semua tudingan, serta kemampuan bertahan tengah iklim politik kita yang didominasi para anggota keluarga bangsawan, atau sosok-sosok kaya-raya atau pejabat masa silam, Nurdin benar-benar memulai semuanya dari bawah. Ia adalah contoh sebuah ketidaksempurnaan yang sukses menempatkan dirinya pada posisi penting.
Ketiga, Nurdin bisa menjadi penanda penting bagi perkembangan ranah kajian ilmu politik dan ilmu komunikasi. Sosok serta perjalanan kariernya bisa menjadi insight penting untuk merevisi kembali kajian politik dan komunikasi ke arah studi kasus yang melihat pengalaman seseorang secara empatik, kemudian menyusun ulang arus besar teori dan paradigma tanpa harus tergantung pada perspektif barat yang selama ini mendominasi kajian ilmu politik.
Sisi Lain Nurdin Halid
Nah, mungkin ada baiknya jika kita mengenal sisi lain Nurdin yang berbeda dengan apa yang selama ini kita ketahui melalui media seperti Kompas, yang setiap hari menjadikan Nurdin bulan-bulanan. Menurut Iman, sang fotografer, kisahnya panjang. Suatu hari di pertengahan tahun 1990-an, ia hanyalah seorang pengangguran yang acap kali menyaksikan latihan PSM Makassar. Di tengah kesulitan ekonomi, ia paling setia menyaksikan semua pertandingan PSM. Suatu hari, manajer PSM, Nurdin Halid, memanggilnya. Nurdin marah-marah karena ia menjadi pengangguran tanpa kerjaan. Usai memarahi, Nurdin langsung mencabut dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang untuknya.
Ia lalu meminta anak buahnya untuk memberikan pekerjaan sesuai dengan keahlian. Ketika Nurdin tahu bahwa Iman senang dengan fotografi, ia mengikutkan Iman dalam pelatihan fotografi sehingga sukses menjadi fotografer pada sebuah media terkemuka di Makassar. Menurut Iman, ia tidak sendirian. Nurdin melakukan itu pada banyak pengangguran di Makassar yang dikenalnya. Ia dikenal sebagai seorang yang baik hati dan suka memberi. “Biasanya ia marah-marah dulu, setelah itu langsung ngasih duit,” kata Iman.
demo menentang Nurdin
Saya mengenal seorang sahabat yang masih menyimpan jam tangan emas pemberian Nurdin. Sahabat itu mengaku tidak seberapa akrab dengan Nurdin. Nmaun, karena Nurdin dikenal sangat welas asih dan rajin memberi hadiah, sahabat saya tersebut kecipratan hadiah. ia pun menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Tahukah anda, ada begitu banyak sosok seperti Iman dan sahabat saya itu di Makassar.
Bagi saya, sekian contoh tersebut bisa menjelaskan mengapa Nurdin menjadi sosok yang dhujat, namun dirindukan. Kemampuannya membangun jaringan sosial melalui empati pada sesamanya menjadi batu loncatan berharga untuk melompat ke tataran yang lebih tinggi. Pada saat ia menghadapi gugatan sebagai koruptor, begitu banyak orang yang bersuaha melindunginya.
Tesis sederhana yang bisa diajukan karena ia membagikan semua yang dimilikinya pada banyak orang. Mungkin ia seperti Robin Hood dalam legenda Inggris yang mencuri dari bangsawan kaya, kemudian membagikan hasil curian itu ke sekitarnya. Penjelasan inilah yang selama ini saya cari pada orang-orang di sekitar Nurdin. Ia bukanlah seorang kikir yang menimbun kekayaan dalam rumah, sebagaimana Gayus. Ia menginvestasikan kekayaan itu pada banyak orang yang segera menjadi tameng baja untuk melindunginya.
Bagi banyak orang di Kota Makassar, Nurdin adalah sebuah fenomena unik. Ia dikenal sebagai sosok yang memulai karir dari bawah, dan berhasil menyodok ke posisi penting dalam politik nasional, maupun dunia persepakbolaan. Ia keluar dari bayang-bayang para politisi lokal yang mengandalkan trah garis kebangsawanan atau politisi yang lahir dari keluarga para politisi.
Ia memang bukan berasal dari latar keluarga besar.  Ia tidak seperti Jusuf Kalla yang putra sosok saudagar kaya Haji Kalla. Bukan juga sosok seperti Gubernur Sulsel Syahrul yasin Limpo, yang merupakan putra Kolonel  Yasin Limpo. Banyak peneliti seperti Michael Buehler yang melukiskan Sulawesi Selatan sebagai ranah tempat para bangsawan dan dinasti politik mencari keseimbangan. Namun Nurdin hanyalah orang biasa, yang memulai karier dari tulang cuci mobil saat kuliah di IKIP Ujung Pandang, kemudian masuk organisasi HMI, lalu melangkah ke parlemen.
Kelebihannya terletak pada kombinasi antara kecerdikan (terserah jika anda menyebutnya kelicikan), serta kemampuan membangun jaringan sosial yang kemudian bekerja untuk dirinya. Terserah apapun komentar Anda tentang Nurdin. Bagi saya, ia adalah potret dari dunia politik kita hari ini yang pasang surut, tanpa sebuah visi yang jelas. Bahkan ia juga terpilih sebagai Ketua PSSI. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa terpilihnya Nurdin karena semua pihak dalam tubuh PSSI tahu persis kalau Nurdinlah yang selama ini mendanai organisasi itu, menggelontorkan pundi-pundi keuangan, di tengah ketidakpedulian pemerintah pada sepakbola tanah air.
Pantas saja jika sebuah stasiun televisi pernah memperhadapkan Nurdin dengan Menpora Alifian Mallarangeng. Saat itu, Mallarangeng tak berkutik saat Nurdin selalu bertanya balik, berapa banyak kontrbusi yang diberikan pemerintah pada PSSI. Mallarangeng tak berkutik karena menyadari betapa sedikitnya anggaran negara untuk cabang sepabola tersebut. Ia juga tahu kalau anggaran itu kebanyakan berasal dari kocek Nurdin, termasuk penggajian atas banyak perangkat di PSSI. Kesuksesan timnas berkat Nurdin yang menggelontorkan banyak dana, terlepas dari mana sumber dana tersebut.
Nah, beberapa hari sebelum tim nasional bertanding melawan Filipina pada leg kedua, saya diajak seorang sahabat untuk ketemu Nurdin. Kami minum kopi sambil ngobrol di satu tempat di Jakarta. Seorang teman lalu menyinggung tentang kongres sepakbola yang digagas Presiden SBY, namun gagal menjatuhkannya. Seorang teman lain lalu menjawab singkat, “Sedangkan dalam tahanan, Presiden SBY tidak bisa menjatuhkan Nurdin. Apalagi sekarang, saat Nurdin bebas.” Semua orang tertawa. Saya sendiri yang terdiam mendengar guyonan itu.(*)

Yusran Darmawan (http://timurangin.blogspot.com)

3 Responses to Terimakasih Nurdin Halid!

  1. Idi suwardi mengatakan:

    Thanks udah share, bolehkan saya share ke teman yang lainnya?.. Oiya makin bagus nih blog, hehe :D

  2. Anjaz mengatakan:

    idi suwardi, Boleh Pak, tulisan aslinya di http://timurangin.blogspot.com

  3. Gigih mengatakan:

    makasih infonya dari anda, apa anda tahu bahwa mobil Lamborghini Murcielago memiliki kecepatan sampai tigaratus km per jam.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.