SISI GELAP DEMOKRASI

b3.jpg

SISI GELAP DEMOKRASI

Otoritarianisme…feodalisme….fasisme…Harus kita lawan kawan..!!!

Singkirkan penyumbat keran-keran demokrasi..!Lawan otoritarianisme…Bunuh feodalisme…Matikan fasisme… Mari hidupkan demokrasi kawan-kawan..!Biarkan perbedaan menjadi sebuah keniscayaanAgar semua tumbuh dan sejahtera meski kita beragam

Sebuah kewajaran ketika semua bersatu dan turun kejalan demi memperjuangkan demokrasi dan melawan segala bentuk otoritarianisme, feodalisme dan fasisme. Karena hampir seluruh dunia telah mengalami masa-masa kegelapan, di indonesia misalnya kurang lebih lima puluh tahun kita mengalami masa-masa “kegelapan” dibawah pemerintahan resim orde lama dan orde baru. Dibawah pemerintahan resim penguasa yang diktator dan otoriter rakyat tak mampu berbuat apa-apa selain tunduk terhadap undang-undang dan hukum yang diproduksi oleh penguasa resim. Undang-undang dan payung hukum dijadikan tameng untuk melindungi serta melanggengkan pemerintahan para penguasa. Yang terjadi kemudian adalah diam, tunduk dan menyimpan dendam. Sebab untuk meneriakkan sepatah kata perlawanan sangatlah mahal harganya. Entah berapa banyak orang dipenjarakan dan dibunuh demi melontarkan keritikan dan perlawan terhadap resim penguasa. Pers yang seharusnya menjadi kerang aspirasi tak mampu melakukan fungsinya dalam menjabarkan fakta dan kebenaran. Semua menjadi perpanjangan tangan penguasa dalam memperlauas doktrin-doktin dan pengaruhnya. Kalaupun ada pers yang berani melawan maka pers tersebut tak akan berumur panjang, sebab mereka akan berurusan dengan “robot-robot” penguasa yang tak mengenal kemanusiaan.Dunia pendidikan yang seharusnya melahirkan orang-orang cerdas pun dijadikan sebagai sarana hegemoni penguasa. Kurikulum pendidikan direkayasa sedemikian rupa sesuai dengan keinginan penguasa. Disekolah kita diajarkan bagaimana bersikap hormat, sopan dan tidak boleh membantah terhadap penguasa. Demikian pula pada sistem ekonomi, hampir semua aset–aset yang ada dikuasai oleh keluarga dan antek-antek pemerintah, sehingga rakyat hanya mendapatkan “ampasnya”, namun itu tak pernah disadari sebab rakyat telah disuguhkan “permen-permen manis”. Dan memang telah di setting oleh penguasa agar rakyat tak mengetahui hal tersebut.Jadi sekali lagi, bahwa perlawanan pada tahun 1998 adalah sebuah kewajaran, sebab rakyat memang telah menderita. Dan kini saatnya rakyat menuai buah perlawanan tersebut Rakyat sudah bebas mengutarakan apa yang mereka inginkan, semua orang bebas berekspresi dan tak takut dalam mengutarakan pendapat meskipun itu berbeda dengan apa yang diinginkan pemerintah. Pers pun kini bebas meneriakkan kritikan terhadap pemerintah dan menyampaikan pesan dari rakyat. Partai-partai politikpun bermunculan bak jamur di musin hujan.

Namun sebenarnya banyak hal lain yang terjadi dan mungkin tak pernah diharapkan ketika demokrasi sedang berjalan. Sebab sebebas apa pun kita masih ada batas-batas kewajaran yang mesti diperhatikan. Dalam berekspresi misalnya, nilai-nilai agama dan moral tidak boleh dikesampingkan sebab menurut saya hanya kedua hal tersebutlah yang saat ini mampu untuk meredam ekspresi-ekpresi negatif. Dalam dunia entertaimen misalnya, orang bebas melakukan adegan meskipun harus mempertontonkan auratnya (contoh: acara komedi nakal) akhirnya perempuan–perempuan muda pun menjadi sebuah aset eksploitasi bagi rumah-rumah produksi. Ikalan-iklan yang menawarkan barang dan jasa terjebak dalam “lingkaran pembohongan” (lihat iklan shampo rejoice : katanya rambut kita akan lurus dan lembut jika memakainya), tak ada satupun iklan yang penyampaiannya dilakukan secara jujur. Bahkan yang lebih menakutkan lagi adalah dunia sinetron, dengan kedok hiburan rata-rata sinetron yang muncul di televisi adalah sinetron yang bertemakan cinta dan dunia remaja. Cerita dan adegannya pun dibuat sedemikian rupa demi meraup keuntungan yang besar tanpa memperhatikan efek yang akan ditimbulkannya. Pernahkan mereka sadari bahwa cerita dan adegan dalam sinetron dapat mengajarkan remaja kita dalam berbuat amoral, seperti kawin diluar nikah, melawan orang tua, memakai pakaian seksi dan bahkan tingginya tingkat perselingkuhan dalam rumah tangga saat ini merupakan salah satu efek dari sinetron. Paparan di atas hanyalah sebagian kecil dari fakta-fakta amoral akibat dari kebebasan berekspresi sebagai produk demokrasi. Saya pernah bertanya dalam hati apakah ini memang salah satu keinginan demokrasi, atau ini hanya sebagian kecil dari efek demokrasi yang tak pernah diinginkan dari demokrasi itu sendiri. Nah kemudian muncul jawaban dalam hati saya bahwa kalau itu keinginan dari demokrasi berarti kita telah terjebak dalam demokrasi yang selama ini telah diperjuangkan. Selanjutnya kalau hal ini hanyalah efek negatif demokrasi yang tak pernah diinginkan dari demokrasi itu sendiri, mengapa sampai saat ini orang-orang yang dulu berjuang atas nama demokrasi tak turun ke jalan dan meneriakkan perlawanan terhadap fakta-fakta tersebut atas nama demokrasi, misalnya meneriakkan:“ATAS NAMA DEMOKRASI LAWAN SINETRON NAKAL DAN IKLAN YANG MELAKUKAN PEMBOHONGAN”. Bukankah demokrasinya telah ternodai. Jika demokrasi tak mau melawan hal-hal tersebut maka orang-orang pun bebas berpendapat bahwa “kenyataan-kenyataan amoral yang terjadi saat ini adalah adalah salah satu bentuk produk demokrasi”. Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Paul Treanor bahwa Bila anda membandingkan dunia sekarang dengan 500 tahun yang lalu, maka demokrasi tampaknya sangat berhasil. Tetapi bila anda membandingkan dengan apa yang telah terjadi, maka jelas merupakan sebuah kegagalan”.

Iklan

One Response to SISI GELAP DEMOKRASI

  1. aldis berkata:

    demokrasi lahir sebagai ebntuk reaksi terhadap kazhaliman gereja yang berkomplot dengan bangsawan di eropa. kekuasaan yang pada saat itu mengatasnamakan tuhanlah yang merupakan otolitarianisme yang ditolak masyarakat. sehingga mereka menuntut adanya pemisahan antara agama dan kehidupan. seakan2 manusia itu terlalu cerdas dan mampu mengurusi semua permasalahna di sunia tanpa aturan tuhan sama sekali. mereka menyempitkan peran tuhan hanya pada aspek spiritualnya saja. yah…itulah sekularisme….yan terjadi di dunia pada saat ini…dan demokrasi adalah pengawal dari si sekularisme itu sendiri. demokrasi yang berslogan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat seakan-akan sebuah slogan yang terbaik dan merepesentasikan kebaikan. padalah itu hanyalah lahir dari kenyataan pahit berupa kekecewaan yang pada abad 15 pihak minoritas yang dimenangkan maka sekarang saatnya pihak mayoritas yang menang. padahal yah…ga gitu juga…. fenomena golput saat ini juga semakin mempertegas demokrasi tidak bisa membawa sebuah kesejahteraan…yang ada hanyalah cost yang mahal yang sebenarnyas egala biaya kampanye itu bisa untuk sesuatu yang lebih rill…mereka yang maju mengatasnamakan demokjrsi juga hanyalah sekelompok orang yang butuh pekerjaan dan penghsilan. jadi ga mungkin masih sempat mikirin bahwa sebenarnya mereka adalah pelayan rakyatnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: