Pilkada Sulsel

“Pilkada Sulsel “ Momen Bagi Figur Yang Populis

Situasi politik di Sulawesi Selatan kian memanas menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung. Pilkada merupakan penterjemahan dan perwujudan dari UU No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Sebagaimana dalam UU tersebut dijelaskan bahwa pemilihan kepala daerah yang demokratis adalah pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat tanpa diwakilkan lagi kepada anggota dewan, seperti yang pernah berlaku sebelumnya.

Melihat kenyataan di atas bahwa gubernur dan wakilnya akan dipilih langsung oleh rakyat, maka untuk memenangkan perebutan kursi kekuasaan ini tidak cukup hanya dengan modal potensi yang dimiliki oleh seorang figur. Karena ibarat sebuah pertandingan, kini yang menjadi juri bukan lagi dewan juri yang biasanya duduk di depan kontestan, tapi yang menjadi juri kali ini adalah seluruh masyarakata sulawesi selatan yang wajib pilih.

Pada sistem pemilihan gubernur sebelumnya, dimana kita ketahui bahwa jika seorang figur sudah memiliki potensi dan “dikenal dengan baik” oleh anggota dewan maka itu sudah merupakan modal yang sangat cukup baginya untuk ikut dalam persaingan perebutan kursi gubernur. Karena yang memilih masih wakil-wakil kita yang duduk dikursi dewan.

Pada pilkada yang akan berlangsung kali ini, modal di atas belumlah cukup bagi seorang figur. Modal yang paling ideal kali ini adalah selain seorang figur memiliki potensi, figur tersebut haruslah populis atau memiliki popularitas dan kharisma dikalangan masyarakat sulawesi selatan secara keseluruhan.

Tidak mungkin masyarakat akan memilih calon yang mereka tidak kenal, namun jika ada yang terjadi seperti itu, pastilah angkanya tak terlalu tinggi. Ini kita bisa pelajari dalam pemilihan umum 2004 lalu, dimana dalam pemilihan anggota DPR dan DPD, rata-rata pemenangnya adalah figur-figur yang populis dan memiliki kharisma, meski beberapa diantara figur tersebut memiliki kesalahan masa lalu alias tidak ideal dari segi moral untuk menjadi seorang pemimpin.

Jadi, menurut hemat saya, inilah saatnya kesempatan bagi figur yang populis dan memiliki kharisma dikalangan masyarakat untuk mencalonkan diri sebagai gubernur. Figur tersebut setidaknya dikenal dan memiliki jaringan di masyarakat sulawesi selatan yang kita kenal memiliki karakter yang heterogen. Sebab jika hanya mengandalkan kampanye untuk mendongkrak popularitas saya yakin itu tidak efektif, karena dalam praktek kampanye yang saya pahami sampai saat ini belumlah ideal, dalam artian kampanye pada prakteknya lebih cenderung mengobral janji atau membagikan kaos partai atau kaos yang memuat foto figur, sehingga kehadiran masyarakat pada saat kampanye adalah karena adanya pembagian baju kaos atau sekedar nonton pertunjukan yang dihadirkan oleh juru kampanye atau lebih dikenal dengan istilah mobilisasi massa. Jelas ini bukanlah murni didasari atas adanya kepopuleran atau kharisma figur yang bisa membangun rasa ikatan emosional. Terlebih lagi kita ketahui bahwa biasanya masyarakat akan menghadiri lebih dari satu kampanye dari partai atau figur yang berbeda. Nah ini motifnya kira-kira apa kalau bukan untuk mendapatkan baju kaos atau hadia-hadiah lain dari jurkam.

Kemudian saya yakini, bahwa figur yang Populis akan lebih mudah merangkul masyarakatnya jika terpilih dalam Pilkada nanti, dan ini sudah tentu dapat memudahkan kerjasama dengan masyarakat, sehingga yang terjadi adalah mendorong masyarakat berperan aktif dalam pembangunan sebagai salah satu maksud dari UU 32 tahun 2004.

Apa yang saya uraikan diatas memang diamini oleh partai dan figurnya dalam merebut tongkat nahkoda sul-sel, ini terbukti dengan digelarnya berbagai acara dengan label “Silaturrahmi” di daerah yang mempertemukan secara langsung Figur bakal calon Kepala daerah dengan masyarakat dan kelompok masyarakat tertentu. Tujuannya jelas adalah merebut kepopuleran di tengah masyarakat.

Sekarang jika kita tarik benang merahnya, Siapakah figur yang populis dikalangan masyarakat sulawesi selatan saat ini, apakah Pak Amin Syam, Pak Syahrul, Pak Azis Qahar, Pak Arfin Numang, Pak Mansur atau figur-figur lain. Saya kira yang berhak menjawabnya adalah masyarkat. (oleh : Anjas Husain)

7 Balasan ke Pilkada Sulsel

  1. bholonk mengatakan:

    sebaiknya ada calon lain lagi agar regenerasi bisa berjalan……
    kenapa sich ….semua politikus karbitan yang di munculkan ( karbitan) karena orang tua mereka akhirnya bisa muncul ditambah duit ada yach jadilah tokoh-tokoh karbitan
    harapan kami ….kapan ada manusia yang muncul di sul sel dengan kemampuan sendiri berjuang dari bawah,bukan karena anaknya si fulan..atau menantunya si ahmad yang kaya itu….

  2. politea mengatakan:

    buat saudara bholonk : apa yang kawan katakan itu memang benar juga, karena hampir sebgian besar politisi kita yang ada saat ini adalah hasil dari pengaruh orang tua mereka terdahulu nataupun nenek mereka, tapi itu tak ada salahnya karena orang tua atau moyangnya mendapatkan pengaruh itu melalui perjuangan juga. jadi saya kira ada proses awalnya juga alias “tidak langsung meledak”. kemudian kepada siapa kira-kira seorang bapak mewariskan hasil perjuangannya kalau bukan pada anaknya.lagian mereka juga punya potensi untuk itu, riwayat pendidikannya juga bagus.

  3. noam salas mengatakan:

    Jangan mau dibodohi!
    Saya pikir siapapun yang menang tidak akan berpengaruh untuk menjadikan hidup ini lebih baik dan berkeadilan, satu hal yang yakni membuat hidup tambah susah.

    BERSIKAPLAH REALISTIS, TUNTUTLAH YANG TAK MUNGKIN
    KAMI TIDAK MAU ROTI, KAMI MAU PABRIKNYA ROTI

    Salam perjuangan.

  4. M. Idrus Taba mengatakan:

    Pilkada adalah media mewujudkan demokrasi. memang yang kita inginkan bukan hanya demokrasi prosedural tetapi juga demokrasi substantif. Tetapi, apa yang ada saat ini merupakan tapak-tapak yang terus kita ayun ke depan. Saat ini ada tiga pasang calon. Mungkin ketiganya tidak dapat memenuhi seluruh ekspektasi kita secara sempurna. tetapi, kita harus yakin bahwa sistem yang ada sekarang sudah berada dijalur benar yan kemudian memunculkan 3 pasang calon tersebut. Suka, pilih saja. Kalu tidak suka, jangan pilih. Repot amat.

  5. Din Rahimi mengatakan:

    Bila Pilkada Sul-Sel berjalan dengan jujur dan tidak melalui berbagai kecurangan seperti intimidasi, money politic, penambahan suara/ pengurangan suara, dan pembohongan publik maka saya katakan inilah pilkada kemenangan rakyat Sul-Sel. Namun sekiranya pilkdada ini dilaksanakan dengan dipenuhi berbagai kecurangan seperti tersebut di atas maka saya katakan inilah pilkada kemenangan rakyat sul-Sel diselimuti tipuan setan. Dengan kata lain pilkada yang demikian adalah pilkada kemenangan setan atas diri anak cucu adam. Terima kasih dan mohon maaf bila ada kekeliruan di dalamnya.

  6. Abu Rayhan mengatakan:

    Siapapun pemenang pada pilkada Sul-Sel pada hakikatnya telah menceburkan diri dalam sebuah pertarungan untuk melawan dominasi kebodohan, kesehatan yang rendah, kemiskinan, mentalitas korupsi, HIV AIDS, Narkoba, premanisme, dugem, dan berbagai penyakit sosial lainnya yang sedang akan mngintip Sul-Sel ini.

    Jadi tentu saja Guburner terpilih sudah mempersipakan perlengkapan yang paripurna untuk melawan semua itu. Kami di sisimu. Namun bila ada penghianatan maka orang yang memilih dalam pilkada sul-sel ini boleh jadi akan menunjukkan jalan yang pantas untuk Gubernur yang dicintainya. Rakyatmu yang mencintaimu. Wassalam. Janji mutaro’e, enrimu cappo.

  7. sangkala' mengatakan:

    ah sudahlah, syahrul daeng kawang sudah menunjukkan taji baraninya Orang Gowa.
    mari songsong Sulsel ke depan yang lebih maju. Sipakatauki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: