Ejakulasi Dini Generasi Muda

 

Saat itu, tepatnya pukul 10.00 wita, hujan keras mengguyur kota Makassar selama  kurang lebih tiga jam, namun hal tersebut tak sedikitpun membuat para demonstran beranjak dari titik aksi. Para Demonstran yang berasal dari salah satu perguruan tinggi di Makassar itu melakukan aksi protes terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang tak memihak rakyat, salah satunya adalah menolak kenaikan Tarif dasar listrik dan kenaikan harga BBM.

 

Titik aksi mereka adalah di depan gedung DPRD Sulawesi Selatan yang berada tepat sebelah timur kota Makassar. Tampak salah satu dari koordinator Aksi memimpin orasi dan disambut dengan teriakan setuju oleh para demonstran atas apa yang di ungkapkannya. Orator  aksi tersebut benar-benar membakar semangat teman-temannya dan seakan membuat badan mereka kering dari terpaan air hujan.

 

 

Aksi penolakan tersebut berlangsung selamat kurang lebih empat jam. Mereka benar-benar menunjukkan idealisme dan semangat perlawanan meskipun harus berhadapan dengan hujan dan aparat yang telah berjaga sejak mereka melakukan aksi tersebut. Setelah utusan dari anggota dewan mengundang perwakilan mereka untuk berdialog, barulah mereka sedikit tenang, namun lagu-lagu perlawanan dan pemberontakan yang melambangkan semangat idealisme tetap terdengar, hingga akhirnya mereka membubarkan diri karena telah mencapai kesepakatan-kesepakatan dengan anggota dewan.

 

Dua Tahun kemudian (tepatnya tahun 2006), Para demonstran tersebut telah menyelesaikan kuliahnya alias sarjana kecuali salah satu dari mereka yang sudah terancam DO dan menjadi Mapala (Mahasiswa Paling Lama) karena sudah delapan tahun berprofesi sebagai Mahasiswa dan mengabdi sebagai aktivis yang memperjuangkan hak-hak rakyat, hingga kuliahnya terbengkalai.

 

Kita lupakan tentang yang Mahasiswa yang “terancam DO” tersebut, kita beralih ke rekan-rekannya yang kini sudah menyandang status sarjana karena musibah besar telah menimpanya.

 

Mereka yang dulu demonstran sejati dan menjadi motor penggerak dalam kampus, kini kehilangan jati diri, ibaratnya singa kehilangan taring ataupun pujangga tanpa puisi. Mungkin mereka menganggap bahwa dengan berakhirnya status sebagai Mahasiswa maka berakhir pulalah tanggung jawab soaial yang dulu pernah mereka pikul. Kini mereka menjadi robot-robot kantor ataupun boneka-boneka perusahaan yang seenaknya bisa diatur. Mereka tak ada bedanya denga mesin yang tiap hari hanya bisa dijalankan tanpa bisa menolak perintah tuannya.

 

Tak ada lagi kepedulian sosial terhadap penderitaan rakyat yang masih membutuhkan pembelaan hingga saat ini, tak ada lagi idealisme yang pernah mereka banggakan. Bahkan tak jarang dari mereka menjadi penindas baru terhadap rakyat yang dulu pernah mereka perjuangkan hak-haknya. Status agent of social control dan agent of change sudah tak ada lagi dalam benaknya. Yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana tunduk dan patuh terhadap perintah atasan demi urusan perut dan demi uang agar secepatnya bisa menikah.

 

Entah apa yang menyebabkan mereka memilih jalan seperti itu, apa mungkin sudah puas dengan perjuangannya sewaktu menjadi mahasiswa ataukah terjebak dalam urusan perut meski harus menjadi robot dan boneka, yaaa……entahlah……kita semua bebas memilih jalan masing-masing.

Iklan

9 Responses to Ejakulasi Dini Generasi Muda

  1. xwoman berkata:

    intinya moral orang-orang indonesia bisa ditukar dengan kekayaan dan kekuasaan. Semangat mereka untuk berdemonstran mungkin hanya bawaan dari sifat “darah muda” yang merasa “yang aku lakukan adalah benar” dan ternyata suatu saat dia harus menjilat ludah yang sudah dia buang ke tanah…
    Demonstran yang mengalu-alukan tuntutannya hanya karena emosi, mempertahankan egonya, dia tidak akan benar-benar mempertahankan apa yang pernah dia perjuangkan. Kalau dia turun sebagai orang yang benar-benar peduli dengan suara rakyat, maka kedudukannya tidak akan mampu menggoyahkan tekadnya untuk tetap membela apa yang pernah dia perjuangkan..
    Kalimatnya agak membingungkan yak 😀

    🙂 : saya ngerti kok mbak, yang mbak ungkapkan ada benarnya, tp saya juga yakin kalau sampai saat ini masih ada juga mantan aktivis mahasiswa yang tetap mempertahankan idealismenya dan senantiasa tetap peduli terhadap pembelaan hak-hak rakyat. meski jalurnya bukan lagi demo atau turun kejalan dengan massa yang banyak. gmn mbak?

  2. senyumsehat berkata:

    mas2 sampean wartawan ya?

    🙂 : waddduh……..kok dituduh sebagai wartawan seh, mana ada wartawan yang cara menulisnya kayak gitu. tapi bleh juga seh, wartawannya wordpres kali…hiihihi.
    aku bukan wartawan mbak.sekarang masih nyari kerja soalnya kuliahku baru kelar.

  3. peyek berkata:

    Nah ,disitulah sesungguhnya perjuangan baru dimulai, semasa mereka jadi mahasiswa, idealismenya tingggi, habis itu nggak tau mereka memang benar-benar edi, nggak tahunya mereka itu adalah carmuk untuk perut sendiri.

    🙂 : ia benar juga yang mas peyek bilang karena sebagai mahasiswa yang pernah memiliki idealisme atau pernah menyandang status sebagaia aktivis kampus, hl itu tidak boleh ditanggalkan begitu saja melainkan tetap dilanjutkan meski pelaksanaannya tidak lagi seperti yang dulu.tapi sekarang yang kita lihat jarang ada yang seperti itu.

  4. xwoman berkata:

    “tp saya juga yakin kalau sampai saat ini masih ada juga mantan aktivis mahasiswa yang tetap mempertahankan idealismenya dan senantiasa tetap peduli terhadap pembelaan hak-hak rakyat. meski jalurnya bukan lagi demo atau turun kejalan dengan massa yang banyak. gmn mbak?”
    Promosiin diri nih… hahaha
    iya kok pasti ada aktivis yang masih peduli gak harus dengan demo dan turun ke jalan *misalnya pura2 jadi pejabat dan pura-pura makan uang rakyat ya!* hehehe… boleh lah dengan cara menulis di wordpress juga memperlihatkan keseriusannya membela rakyat sewaktu di kampus.

    Nah ini serius, emang kok ga semua lepas tangan, aku juga lihat di daerahku ada mantan aktivis tapi tetap dengan tekadnya sewaktu kuliah. Setidaknya dia sering mengajukan proposal (langsung ke instansi pemerintah lho!) untuk membantu warga yang berada di bawah garis kemiskinan. Caranya macem-macem ada yg menggarap tanah negara, ada yg buka koperasi… dan ternyata itu suatu bukti ternyata masih ada yg mampu menjadi pelita dan sampai saat ini memang bisa menjadi panutan warga…
    Masih muda lho orangnya!

  5. arul berkata:

    pola pikir mahasiswa sekarang telah bebeda.. kiat lihat aja hasilnya nanti….

    🙂 : salah satu barangkali penyebabnya adalah pengkaderan di kampus yang tidak lg sebagus dulu.

  6. manusiasuper berkata:

    itu anggota DPR-RI atau DPR sekarang, banyak yang dulunya aktivis, yang memprotes kebobrokan pemerintah..

    sekarang setelah kadi bagian dari kebobrokan itu??
    Menikmati…

    ya..bener sekali, entah itu adalah sebuah resiko yang selalu ada atau sekedar ketidak sadarna mereka.

  7. dede berkata:

    mahasiswa sekarang harus lebih sadar dengan kekuatannya sebagai pengontrol dan pembawa perubahan bagi masyarakat. jangan hanya memikirkan kuliahnya tapi pikirkan juga masalah yang ada di masyarakat dengan begitu kita akan tahu apa yang menjadi permasalahan di tengah-tengah masyarakat

  8. acowsky berkata:

    your blog is good.
    mahasiswa ada baiknya belajar bermasyarakat dulu lah di kampus. masyarakat dah pintar coy… model demo dan aksi mesti lebih kreatif. gimana kalo ada yang garap gerakan berbasis IT ?

  9. John berkata:

    mantap gan perkembangan teknologi sekarang, , klw kita gak ikuti bisa ketinggalan kereta , Aerith

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: