Ilusi demokrasi

Semarakanya kampanye dan derap demokrasi di berbagai belahan dunia, terutama dunia ke tiga, membuat kita semakin tidak bisa menyadari bahwa apa yang hadir di tengah-tengah kita sesungguhnya tak lebih sebagai sebuah kepalsuan: sebuah demokrasi yang palsu, sebuah kesejahteraan yang palsu, sebuah kemakmuran ekonomi yang palsu, kebebasan berpendapat dan berpolitik yang palsu. Demokrasi datang dengan sejuta harapan akan kemakmuran dan upaya-upaya pembebasan. Demokrasi mengajarkan agar kita menjaga fairness dalam berkompetisi dengan siapapun. Demokrasi mendoktirnasi agar setiap warga tunduk pada peraturan dan kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan melalui proses yang demokratis. Demokrasi pula mengajarkan untuk mengkritik otoritarianisme, feodalisme dan fasisme.

Demokrasi memang mengajarkan untuk tidak melarang perbedaan pendapat tapi demokrasi tidak mengizinkan perbedaan pendapat yang mengkritik dirinya. Demokrasi juga tak pernah mengajarkan bagaimana manusia menghargai otoritarianisme sebagai sebuah ide. Demokrasi tampak hanya mengajarkan bagaimana menentang lawan, bukan menghargai lawan. Sehingga yang terjadi, tanpa kita sadari adalah sebuah sikap otoritarianisme yang lain karena demokrasi tidak mengizinkan eksisnya sesuatu yang lain kecuali dirinya sendiri. Apalagi demokrasi senantiasa mencap diktator, otoriter dan fasis bagi yang mengkritik atau menentangnya. Bahkan Treanor mengatakan “ Anti demokrasi adalah Hitler.” Ini adalah istilah paling kejam dalam mendefiniskan penentang demokrasi

Fenomena lain yang merupakan kepalsuan demokrasi adalah Amerika Serikat yang dianggap sebagai negara paling demokrasi seakan menutup mata terhadap bencana kelaparan yang terjadi di negara yang tidak menganut sistem demokrasi. Dan Amerika akan tanggap ketika negara tersebut bersedia mengikuti faham-faham yang ditawarkan. Sehingga yang tampak adalah bahwa demokrasi lebih metolelir prilaku keserakahan ketimbang keadilan. Demokrasi lebih bersimpatik kepada kapitalisme ketimbang memberdayakan masyarakat, karena demokrasi tak pernah memberi ruang terhadap penentangnya sebagaimana demokrasi sangat membebaskan para kapitalis untuk berkompetisi.

Lantas siapakah sebenarnya yang paling demokratis? Bisa jadi mereka adalah para intelektual, pejabat, pelaku ekonomi, politisi, masyarakat awam, akademisi, mahasiswa, dan para pembela “kebebasan” yang lain yang kecanduan terhadap keindahan dan kemolekan demokrasi.

Tulisan di atas merupakan hasil rangkuman saya dari sebuah buku yang berjudul “ilusi demokrasi” ditulis oleh Saiful Arif (2003). Menurutnya, buku tersebut dihadirkan untuk memberi “rasa” bagi para pejuang dan penentang demokrasi agar dapat merasakan belenggu penjara “ilusi demokrasi”

6 Balasan ke Ilusi demokrasi

  1. cakmoki mengatakan:

    lho, saya nunggu kesimpulannya. koq nggak ada?
    Sepertinya kita disuruh mencerna dan merenungkan sendiri ya, semacam karya terbuka yang bersifat dinamis🙂
    🙂 : spserti yang saya katakan bahwa tulisan ini bermaksud memberi “rasa” atau bahan renungan bagi para pejuang dan penentang demokrasi, jadi tulisan ini tidak menawarkan suatu hal kepada pembaca.🙂

  2. ..:X W O M A N:.. mengatakan:

    halah… sampe ngos-ngosan bacanya😀
    bahasa politik, agak pusing juga. Jadi sebenernya demokrasi itu…???
    🙂 : pada dasarnya demokrasi sebagai suatu ide adalah hal yang sangat baik, dimana rakyat diberi kewenangan untuk menentukan pilihannya sendiri, jadi yang namanya perbedaan adalah suatu hal yang lumrah dalam demokrasi. namun pada prakteknya, demokrasi sendiri tidak sebaik yang ada dalam konsep. karena demokrasi seakan lebih mengutamakan keserakahan kapitalisme dariapada humanisme.

  3. helgeduelbek mengatakan:

    Karena semua kepalsuan ada sejak dimulainya pemerintahan, negeri ini pun palsu. Kita hidup ditengah kepalsuan. Mau keluar negeri?

  4. Rudi mengatakan:

    semua orang bebas berpendapat dan berfikir, tapi setiap pendapat dan pemikiran pasti ada landasan berfikirnya, untuk itu saya ingin bertanya pada saudara helgeduelbek (wah..namanya lumayan susah, samape lidah gw kepelset hihihhi) atas adasar apa sehingga dikatakan semuanya palsu. mohon pencerahannya!!
    🙂 wah…Pak Guru, ada yang minta pencerahan neh…

  5. noertika mengatakan:

    amerika adalah pembual demokrasi. kalo demokrasi itu ibarat ibadah, maka yang dipraktekkan USA adalah ibadah dengan tubuh penuh najis…dia berkhotbah tentang pentingnya demokrasi, tapi setelah itu, dia mabuk2 an diberanda belakang…

    memang dunia tidak adil….hari ini…
    tapi entah di esok hari…mudah2an si Bebal mendapat ganjaran setimpal…
    🙂 ya, betul bro! di satu sisi amerika mengkampanyekan demokrasi, namun di sisi lain dia justeru menghianantinya.

  6. kangguru mengatakan:

    demokrasi atau democrazy
    🙂 hahahha….ya demokrasilah…, tp bisa jg yah…democrazy is pengekpresian kenakalan…haahhaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: