INDONESIA SUDAH MERDEKA; OMONG KOSONG

Oleh : Muhammad Rais

Kemerdekaan sering kita artikan sebagai suatu kondisi dimana kita terbebas dari berbagai penindasan dan tekanan. Dengan kata lain, kemerdekaan adalah kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa adanya interfensi dan campur tangan pihak lain. Orang merdeka adalah orang yang telah berdaulat sepenuhnya terhadap dirinya sendiri. Sedangkan negara merdeka adalah negara yang memiliki kedaulatan untuk mengatur negaranya sendiri.

Khusus bagi bangsa Indonesia, setiap bulan agustus tepatnya tanggal 17 Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. Ini pertanda bahwa sejak itu pula bangsa Indonesia telah terbebas dari penindasan dan tekanan pihak penjajah. Dengan kata lain, Indonesia telah merdeka dan bebas untuk mengatur dirinya sendiri. Tapi yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah apa betul kalau kita sudah merdeka? Apa yang telah kita dapatkan setelah 60 tahun kita merdeka?

Kita bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan melihat dan mengevaluasi kembali tujuan-tujuan bangsa ini yang ditulis oleh para pendirinya pada saat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tujuan itu termaktub dalam UUD 1945 yang berbunyi “Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu ….”

 

Memajukan Kesejahteraan Umum

 

Menurut data terakhir BPS (Al Islam, 2005) mengemukakan bahwa jumlah penduduk kategori sangat miskin dengan pendapatan Rp120.000 per orang/bulan mencapai 44,7 juta KK atau sekitar 16 juta jiwa. Penduduk kategori miskin dengan pendapatan Rp150.000 per orang/bulan berjumlah 10 juta KK atau 40 juta jiwa. Kemudian masih terdapat penduduk hampir miskin (hidup di near line of poverty) dengan pendapatan Rp175.000 per orang/bulan berjumlah 15,5 juta KK atau 62 juta jiwa. Dengan pendapatan yang rendah jangankan untuk kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sekunder lainnya, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja seperti makan, pakaian, dan rumah sulitnya luar biasa.

Selain itu, jumlah pengangguran juga naik dari 10,9 juta menjadi 11,6 juta jiwa awal Oktober 2005. Kemudian masih terdapat jutaan anak mengalami gizi buruk, 4,5 juta anak putus sekolah, tindak kriminalitas meningkat 1.000 %. Kondisi kesejahteraan yang rendah ini kemudian diperparah lagi dengan adanya utang luar negeri yang begitu besar. Untuk tahun 2000 lalu, utang luar negeri Indonesia telah mencapai US$ 150 Miliar atau sekitar Rp1.400 Triliun. Jika utang ini dibagi-bagikan kepada setiap penduduk Indonesia, maka setiap orang termasuk bayi yang baru lahir sekalipun ikut menanggung utang sebesar US$ 750 atau setara dengan Rp6.750.000 bila kurs 1 dollar = Rp9.000

Padahal kemiskinan itu, pengangguran, putus sekolah, gizi buruk, dan utang luar negeri seharusnya tidak perlu terjadi. Mengapa? Karena kita tahu alam Indonesia sangat kaya dan dikenal sebagai negara super biodiversity. Keanekaragaman hayatinya merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Hutan Indonesia juga merupakan yang terbesar di Asia-Pasifik. Rata-rata hasil hutan mencapai US$ 8 Miliar/tahun, tetapi hasil tersebut hanya 17 % yang masuk ke kas negara, sedangkan sisanya sebesar 83 % masuk ke kantong pengusaha HPH. Selain itu, Indonesia juga memiliki pesisir terpanjang di dunia dengan potensi ikannya mencapai 6,2 juta ton atau setara dengan Rp 74 Triliun/tahunnya. Belum lagi sumber daya alam lainnya seperti emas, perak, tembaga, gas, batubara, dan minyak bumi yang juga sangat besar. Bahkan sejak tahun 1999 Indonesia sudah dikenal sebagai penghasil timah terbesar ke-2 di dunia, pengekspor batubara terbesar ke-3 di dunia, penghasil tembaga terbesar ke-3 di dunia, penghasil emas terbesar ke-5 di dunia, dan penghasil nikel terbesar ke-7 di dunia ( Muhammad Rais dan Nani Wijaya, 2006)

 

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

 

Berdasarkan hasil penelitian The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) pertengahan September 2001 menyebutkan bahwa kualitas SDM Indonesia menduduki urutan 12 dari 12 negara yang diteliti di Asia, bahkan lebih rendah dari Vietnam yang notabene baru lepas dari konflik perang. Belum lagi kualitas perguruan tinggi Indonesia yang jauh tertinggal. Jangan dibandingkan dengan pendidikan tinggi di Eropa dan Amerika. Pada tingkat Asia saja, berdasarkan peringkat universitas terbaik di Asia versi majalah Asiaweek 2000 tidak satu pun universitas di Indonesia yang masuk 20 terbaik. Total skor yang diperoleh dari seluruh kriteria menempatkan Universitas Indonesia diperingkat 61 kategori universitas multidisiplin, UGM di urutan 68, UNAIR diperingkat 75, UNDIP diperingkat 77, sementara ITB di urutan 21 kategori universitas sains dan teknologi yang kalah dibandingkan dengan Universitas Nasional Sains dan Teknologi Pakistan (Zulia Ilmawati, 2004)

Tapi ironisnya, pemerintah malah mengkomersialkan pendidikan. Padahal dengan mutu yang rendah pemerintah seharusnya mengupayakan pemerataan pendidikan bukan sebaliknya justru mengkomersialisasikannya. Pemerataan itu hanya dapat dilakukan jika anggaran yang dialokasikan pemerintah cukup. Selama ini anggaran pendidikan sangat kecil tidak lebih dari 10 % dari total APBN setiap tahun, bahkan untuk tahun 2005 yang lalu hanya 5,82 % sedangkan dana untuk membayar utang sekitar 25 % dari total APBN. Implikasi dari rendahnya anggaran adalah fasilitas dan sarana-saranan penunjang kegiatan pendidikan sangat kurang. Selain itu, harapan untuk mendapatkan pendidikan juga semakin sulit. Data BPS akhir tahun 2000 menyebutkan lebih dari 35% anak Indonesia yang berusia 10-14 tahun belum pernah duduk di bangku sekolah dan 32% anak tidak pernah tamat.

 

Melaksanakan Ketertiban Dunia

 

Tujuan ini tentu saja berhubungan dengan kemampuan politik luar negeri Indonesia. Tapi nyatanya sekarang, kemampuan politik luar negeri Indonesia pun jauh merosot. Kalau dulu pada masa orde baru Indonesia masih di-tua-kan dalam Gerakan Non Blok tapi sekarang kita sudah tidak dianggap atau bahasanya Prabowo Indonesia sekarang dikenal sebagai ‘harimau ompong’.

Logikanya sederhana sekali, bagaimana mungkin Indonesia bisa berpengaruh di dunia internasional kalau kondisi nasionalnya saja berantakan. Ada banyak contoh bagaimana Indonesia sudah tidak dianggap atau kasarnya diremehkan yaitu pelanggaran atas wilayah kedaulatan ketika pesawat F-18 Hornet milik Amerika yang memasuki wilayah Indonesia. Seharusnya Indonesia bisa menembak jatuh pesawat Amerika tersebut. Tetapi nyatanya Sukoi waktu itu tidak bergerak dan hanya terparkir rapi seakan tak punya ‘avtur’. Kemudian contoh lain bagaimana negeri tetangga Malaysia dengan gampangnya mengambil pulau Ligitan dan Sipadan sebagai wilayahnya. Di samping itu, baru-baru ini kita menyaksikan bagaiman Austaralia dengan seenaknya memberikan visa sementara kepada 42 warga Indonesia yang mencari suaka politik di negeri kanguru itu. Padahal kita tahu bersama bahwa suaka politik itu baru bisa diberikan ketika yang meminta suaka itu betul-betul sedang diburu, ditakut-takuti, dikecam, dan jiwanya sedang terancam di tempat atau negara asalnya. Tapi inikan tidak terjadi pada 42 warga Papua tersebut. Dengan demikian tidak pantas, tidak wajar, dan tidak seharusnya Austarlia memberikan visa sementara. Tetapi sikap SBY sebagai presiden merespon arogansi Australia adem-adem saja. Nanti setelah beberapa hari karena terus ditekan oleh mahasiswa dan media massa SBY kemudian baru mengeluarkan pendapat, itu pun hanya sekedar menyesalkan tindakan pemerintah Australia tanpa adanya langkah nyata yang tegas.

Kemudian peristiwa yang paling memilukan bagaimana Indonesia dipermainkan dan diobok-obok oleh negara Timor Leste yang notabene merupakan bekas provinsi Indonesia yang baru merdeka pasca jejak pendapat tahun 1999 lalu. Dimana kita melihat bagaimana sikap arogan dari tentara Timor Leste yang menembaki 3 warga sipil Indonesia diperbatasan Timor Leste dengan Nusa Tenggara. Warga ini baru sekedar memasuki beberapa langkah wilayah Timor Leste dengan maksud mengambil air di sungai tapi dengan cepat langsung diberondong peluru oleh tentara Timor Leste. Betapa kita melihat begitu dipermainkannya Indonesia jangankan oleh negara Eropa dan Amerika yang memang adikuasa, tetapi negara sekecil Timor Leste sekalipun -yang kalau bisa saya katakan anak dari Indonesia- sudah berani melawan dan menampar ibunya sendiri.

 

Kita Masih Dijajah

 

Mengapa kemerdekaan gagal mengantarkan Indonesia mencapai tujuannya padahal sudah 60 tahun justru tidak lebih baik melainkan semakin terpuruk? Kalau kita telusuri penyebab utama kegagalan bangsa Indonesia adalah karena secara ideologi, politik, pemerintahan, militer, maupun ekonominya masih merujuk pada Barat yang sebenarnya merupakan penjajah. Di bidang ekonomi misalnya, Indonesia dijajah melalui IMF, Word Bank, dan lembaga keuangan dunia lainnya. Indonesia diberikan pinjaman yang begitu besar sehingga untuk membayar bunganya saja sampai hari ini Indonesia tidak mampu dan entah kapan baru bisa dilunasi. Inilah yang dijadikan alat oleh pihak asing untuk memaksa Indonesia menerima dan menjalankan program-program yang diperintahkan oleh negara-negara donor.

Olehnya itu, tidak ada cara lain bagi bangsa Indonesia untuk bangkit kecuali membebaskan dirinya dari penjajah Barat baik secara ideologi, politik, militer, pendidikan, militer, dan sosial budaya. Terbukti selama kita menjadikan ideologi kapitalisme sebagai asas kehidupan kita maka yang terjadi adalah tragedi. Meskipun kita sepertinya telah merdeka tetapi sesungguhnya kita masih dijajah. Selanjutnya adalah mengambil dan menerapkan ideologi Islam dalam kehidupan politik, ekonomi, militer, dan di bidang yang lain. Penerapan Syariat Islam secara menyeluruh hanya dapat diterapkan dalam sistem Daulah Khilafah Islamiyah sebagai institusi politik dan pemerintahan untuk seluruh manusia di seluruh dunia.

Melalui Daulah Khilafah Islamiyah, SDA dan SDM akan dipersatukan yang selanjutnya akan melahirkan tata dunia baru, yakni peralihan dari kebobrokan sistem kapitalisme-sekulerisme yang merugikan menuju tatanan sistem kehidupan berdasarkan aqidah dan Syariat Islam yang bersumber dari Allah SWT, Tuhan semesta alam, Tuhan yang menciptakan manusia dan yang paling mengetahui potensi serta kebutuhan dari ciptaannya itu.

 

 

Tulisan ini sebagai jawaban sekaligus renungan bagi dosen dan rekan-rekan diskusi yang dengan tegas dan pasti mengatakan Indonesia telah merdeka secara mutlak.

 

 

Penulis adalah Mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMAPOL) FISIP UNHAS dan aktivis Gema Pembebasan.

Iklan

2 Responses to INDONESIA SUDAH MERDEKA; OMONG KOSONG

  1. nirwan berkata:

    MERDEKA!

    belum

    (ikranegara ’98)

  2. Tim Meontology berkata:

    Kami menginformasikan bahwa buku Bapak Boas baru saja terbit yang mengulas tentang pemikiran Karl Marx dan F. Dostoievsky, yang dapat diperoleh di toko buku gramedia..atau jika ingin segera mendapatkannya dapat mengubungi Ar-ruzz media cab. Depok-Cimanggis via telp (021)8712775,…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: